Resto dan Hidroponik: Gabungan yang Apik

Resto dan Hidroponik: Gabungan yang Apik

Seorang pengusaha Mormon, secara cerdas menggabungkan konsep restoran dan hidroponik, dan sukses meraup berbagai keuntungan dari kegemarannya bercocok tanam.

Rilis Berita

Bercocok tanam merupakan sebuah kegemaran yang sering kita dengar dan cukup banyak diminati oleh masyarakat, dan di tangan Bertha Suranto, bercocok tanam menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar kegemaran, bahkan membawa banyak keuntungan. Dilandasi rasa takutnya terhadap cacing, Bertha telah sukses mengaplikasikan sistem hidroponik, sebuah metode bercocok tanam dengan media air. Hasilnya, tanaman menjadi cepat dalam pertumbuhannya dan bebas pestisida.  Pemikiran cerdas berikutnya adalah sangat cocok untuk menggabungkan hidroponik ini dengan usaha restoran yang Bertha miliki.

 

Latar belakang keseriusan Bertha dalam menjalankan bisnis hidroponik tidak hanya dikarenakan keuntungan yang menggiurkan. Dia mengungkapkan usaha hidroponiknya ini berawal dari kegemaran atau hobi pribadinya, yang kemudian menarik minat banyak orang untuk mempelajari lebih lanjut. Dalam waktu yang relatif singkat, Bertha berhasil mengadakan banyak pelatihan mengenai metode hidroponik ini. Selain itu, pengusaha yang memantau program hidroponik di berbagai sekolah ini juga memproduksi sendiri nutrisi serta perlengkapan hidroponiknya. Tak heran, dalam sebulan omzet usaha yang Bertha jalankan mencapai ratusan juta rupiah.

Namun seperti layaknya orang usaha, disamping keuntungan yang besar, ada banyak juga masalah-masalah yang dihadapi oleh wanita yang juga memiliki peternakan ayam ini. “Terlalu banyak hama di Indonesia. Jadi kalau mau menanam secara terbuka, kendala hamanya banyak, tetapi kalau mau secara tertutup, terlalu panas”, ungkap Bertha. “Untuk mengatasinya mesti harus menggunakan pembasmi hama nabati, bukan pestisida. Jadi saya juga masih banyak belajar bagaimana menemukan pestisida alami”, imbuhnya.

Beliau juga bercerita mengenai kejadian pemalsuan produknya yang dilakukan oleh oknum tak bertanggung jawab, namun kendala tersebut tidak menyurutkan semangat pengusaha yang telah memiliki ratusan ribu pengikut di media sosial ini.

Kesuksesan wanita tidak membuatnya meninggalkan bahkan mengurangi sedikitpun perhatian untuk kegiatan gereja dan keluarga. Di tengah jadwalnya yang padat, pengusaha ini tetap mengutamakan kebaktian setiap hari Minggu, serta menghabiskan waktu bersama keluarganya. “Saya tetap berusaha untuk meluangkan waktu untuk makan bersama keluarga. Saya dan suami sering tidak di rumah, dan anak-anak sudah terbiasa untuk hidup mandiri”, imbuh Bertha.

Menariknya, anak bungsunya, Christopher Suranto, juga cukup aktif mempublikasikan usaha hidroponik milik sang ibu melalui tutorial di YouTube. “Dia (Christopher) yang mengurus channel di YouTube. Viewers-nya juga sudah ratusan ribu, bahkan jutaan. Sudah dia monetize juga, jadi Christo sudah punya penghasilan sendiri dari YouTube”, bangga Bertha Suranto. Hal ini tentu merupakan sebuah berkat tersendiri, dimana kesuksesan yang dia raih tidak hanya dalam bisnis namun juga dalam berkeluarga.

Bertha juga memaparkan bahwa hidroponik dapat diaplikasikan di segala macam tanaman, dan siapapun dapat mempelajarinya sejauh mau belajar. Pengusaha ini juga mengaku masih banyak belajar mengenai metode tanam tanpa tanah ini. “Saya yang pertama kali menemukan sistem yang memungkinkan tanaman ini tetap tumbuh tanpa listrik”, paparnya. Hal ini didapatnya dari hasil belajar terus-menerus. “Murid-murid mencontek tidak apa-apa, itu adalah kesenangan tersendiri”, tambahnya.

Tak ayal, pada tahun 2013 pengusaha inovatif ini dihadiahi penghargaan bergengsi APEC WEF di Bali. “Gak boleh menyerah! Biasanya setelah dapat untung langsung dipakai, harusnya diputar. Modal awal saya sekitar 50 juta, sekarang bisa menghidupi banyak karyawan”, ungkap pengusaha wanita inspiratif ini.

Catatan Panduan Gaya:Ketika melaporkan tentang Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir, mohon gunakan nama lengkap Gereja dalam rujukan pertama. Untuk informasi lebih lanjut mengenai penggunaan nama Gereja, pergi ke panduan gaya daring kami.Panduan Gaya.