Antara Global dan Lokal

Antara Global dan Lokal

Dunia nampaknya menjadi semakin kecil.

Rilis Berita

Teknologi memungkinkan kita untuk terhubung secara lebih mudah. Media sosial mempercepat arus gagasan dan menjembatani jarak. Semakin banyak orang berpikir, bekerja dan hidup dalam ruang informasi bersama. Kegiatan dagang dan komersial lainnya meregangkan aktivitas manusia melintasi batas-batas politik dan ekonomi. Berbagai agama dan pandangan dunia berinteraksi dan bertabrakan. Organisasi internasional mempromosikan standar untuk hak, kebebasan dan demokrasi di seluruh dunia.

 

Namun, terlepas dari tren ini, cara hidup lokal belum lenyap. Orang-orang semakin menghargai keunikan budaya mereka sendiri. Mereka ingin melestarikan nilai-nilai, tradisi dan kepercayaan yang membentuk diri mereka. Meksiko dan Malaysia, misalnya, berpartisipasi dalam sistem internasional tetapi mereka tidak ingin kehidupan nasional mereka diarahkan oleh New York atau London. Hal-hal kecil masih berpengaruh.

Pakar politik Joseph Nye menulis: “Kita hendaknya tidak mengharapkan – atau merasa takut – bahwa globalisme akan mengarah pada homogenisasi. Sebaliknya, itu akan semakin mengekspos kita secara lebih sering dan bervariasi terhadap perbedaan yang ada di sekitar kita.”[1]

Terlepas dari kemana kita bepergian, berkunjung atau tinggal, kita menjalani kehidupan kita di tempat-tempat tertentu yang memiliki kepribadian, kebiasaan dan budaya tertentu. Kasih sayang yang kita bagikan dengan tetangga dan orang-orang yang seiman membantu membentuk karakter kita. Tanggung jawab yang kita warisi dari nenek moyang menanamkan rasa tanggung jawab dalam pekerjaan kita. Lanskap negara kita mengikat kita ke bumi tempat berpijak. Sejarah bangsa kita memaknai perjuangan kita. Semua tempat berbeda.

Penduduk lokal sering kali merasa terancam oleh jangkauan organisasi internasional. Berbagai dewan, konvensi, sanksi dan resolusi dipandang sebagai kekuatan besar dan impersonal yang mengurangi otonomi lokal. Badan-badan semacam ini menetapkan aturan untuk perilaku antara negara-negara dan mengejar tujuan bersama. Tetapi apa yang mereka maksudkan sebagai suatu normal moral sering kali dianggap sebagai pemaksaan moral. Nilai-nilai dari tempat-tempat kecil seperti iman, keluarga dan masyarakat tidak bisa dikurangi pengaruhnya tanpa merusak struktur sosial. Hal-hal kecil ini dapat hilang di arena besar politik internasional.

Ketegangan muncul dalam berbagai cara: hukum terhadap penghujatan bertabrakan dengan kebebasan berbicara; upaya untuk melarang konflik diskriminasi bertentangan dengan kebebasan berserikat; hak-hak nurani beragama berbenturan dengan hak-hak kaum LGBT; peran gender tradisional bersaing dengan moralitas konservatif; standar berpakaian beragama menantang kepekaan sekuler; dan kebebasan pribadi bergesekan dengan kebaikan masyarakat.

Orang-orang biasa menjalani kehidupan biasa di tempat-tempat biasa dapat merasa jauh dari wacana elit organisasi internasional. Kemajuan hak asasi manusia sering kali diukur dari segi tindakan pemerintah. Tetapi praktisi global Michael Ignatieff meragukan apakah bahasa hak asasi manusia telah “mencapai ke dalam … praktik-praktik umum rasa percaya dan toleransi, pengampunan dan rekonsiliasi yang merupakan inti dari perilaku moral pribadi.”[2]

Meskipun demikian, ini bukanlah sebuah cerita tentang yang baik melawan yang jahat. Organisasi internasional juga bertindak berdasarkan prinsip-prinsip dan etika. Organisasi internasional menghargai kesetaraan, martabat dan perdamaian serta meraih banyak dalam menyelesaikan perselisihan dan mengurangi konflik. Kedua belah pihak mencari apa yang tampaknya tepat bagi mereka dan hendaknya mengenali kebaikan yang masing-masing tawarkan. Melalui dialog yang beradab, berbagai pihak yang berbeda dapat berkumpul bersama untuk mempromosikan hak asasi manusia sekaligus menghormati kebebasan budaya lokal.

Untuk tujuan ini, pakar sosiolog Jose Casanova membayangkan munculnya suatu “masyarakat sipil global,” menegaskan bahwa suatu konsensus yang bertahan lama antara global dan lokal “perlu didasarkan pada norma-norma yang lebih luas, yang menemukan resonansi dalam tradisi moral, budaya, dan beragama dari berbagai bangsa yang membentuk kemanusiaan global.”[3]

Ketidaksepakatan dan dialog bukanlah tanda-tanda kelemahan. Ini menunjukkan bahwa orang-orang peduli dengan kebaikan masyarakat dan dunia mereka.

Percakapan membuat kita keluar dari gelembung kita.

[1] Joseph Nye, “Globalism Versus Globalization,” The Globalist, 15 Apr 2002.

[2] Michael Ignatieff, “Human Rights, Global Ethics, and the Ordinary Virtues,” Ethics & International Affairs, 10 Mar 2017.

[3] Jose Casanova, “Globalization, Norms, and Just Governance,” dalam Religion, Peace, and World Affairs: The Challenges Ahead (2016), 29.

Catatan Panduan Gaya:Ketika melaporkan tentang Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir, mohon gunakan nama lengkap Gereja dalam rujukan pertama. Untuk informasi lebih lanjut mengenai penggunaan nama Gereja, pergi ke panduan gaya daring kami.Panduan Gaya.