Timothy Samad, Pemain Basket Mormon di Indonesia

Rilis Berita
                                           

    Timothy Putra Samad menginspirasi dan memotivasi anak muda Indonesia lainnya. Remaja yang akrab dipanggil Timmy ini masih berusia 17 tahun, namun telah mengikuti pertandingan bola basket di Paris World Games 2018. Timmy dan 14 anggota tim basket SMBA Indonesia berhasil meraih piala kemenangan peringkat pertama. Kemenangan ini tak lepas dari kegigihan pelatih Ari Adiska yang mempersiapkan tim menjelang pertandingan. 
    Timmy menjelaskan, ia tertarik bermain bola basket sejak kelas 7 ketika berusia 13 tahun. Awalnya ia hanya menyukai sepak bola. Lambat laun, ia tertarik dan mulai menggeluti bola basket. Sejak itu, Timmy berpartisipasi dalam pertandingan bola basket lokal, nasional, hingga mancanegara antara lain di Singapura, Malaysia, Thailand, Spanyol, dan Prancis.
    Ketika ditanya tentang kesan pertama tiba di Paris, cowok setinggi 175 cm ini bercerita, “Saya kagum dan bangga bisa sampai ke sana, kan kita bawa nama Indonesia ya, mau bertanding, bukan cuma jalan-jalan. Kita harus membawa sesuatu saat pulang.” 
    Selama di Paris (6–13 Juli 2018), Timmy beserta tim memulai dua hari pertama dengan persiapan, latihan, dan mengikuti tur mengunjungi Notre-Dame, Lovre Museum, menara Eiffel, dan Arch De Triomphe. Setelah itu mereka bertanding melawan tim-tim hebat lain sampai akhirnya mengalahkan tim IBSO dari India. Tim bola basket With Us Paris memimpin divisi satu sementara tim Sekolah Kharisma Bangsa (SMABA) Tangerang Indonesia menjuarai divisi dua.
    Disinggung soal persiapan, Timmy mengaku mengerjakan PR kelas Seminari dan PR sekolah sampai larut malam. Dua minggu menjelang pertandingan, Timmy dan timnya menghadapi persiapan latihan bola basket intensif setiap hari pukul 9 pagi sampai 11 siang dan 4 sampai 6 sore. Tidak lupa ia juga rajin melakukan persiapan mental dengan selalu berpikiran positif serta berdoa. 
    Timmy menambahkan, salah satu tantangan di Paris adalah cuaca yang panas dan berangin. Menurutnya panas di Paris berbeda dengan Jakarta. Ia harus beradaptasi dan membuat diri sendiri nyaman selama di Paris. Timmy bersyukur orang tuanya memberi dukungan penuh. Ibunya menyiapkan bekal, mengantar dan menjemputnya ketika sekolah, seminari, serta selama latihan.
    Berkat ketekunan dan keuletan menekuni bola basket serta mempertahankan prestasi akademis, Timmy mendapat beasiswa penuh di sekolah. Penggemar Russell Westbrook ini sangat rajin beribadah setiap Minggu di Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir.
    Kadang ia harus minta izin untuk tidak mengikuti latihan bola basket pada hari Minggu. Tidak jarang, kesibukan menuntut Timmy belajar di mobil karena ia tidak memiliki banyak waktu. Usaha dan pengorbanan Timmy membuahkan hasil yang membanggakan.
    Setelah lulus SMA, Timmy berencana menjadi misionaris penuh waktu Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir selama dua tahun. “Saya ingin pergi misi satu tahun lagi ketika umur saya mencapai 18 tahun. Sejak kecil memang ingin pergi misi. Dulu orang tua saya juga melayani misi,” urai Timmy yang gemar bermain gitar, piano, dan futsal.
    Sang ayah, Looky Samad mengungkapkan perasaannya terhadap Timmy. “Tentunya bangga dan bersyukur. Ia tidak pernah sedih atau murung kalau kalah.” Ibunda Timmy, Diana Samad, menjelaskan bagaimana doa-doa mereka terkabul. Salah satu isi doa Diana, agar putra mereka tidak harus berlatih pada hari Minggu. Looky dan Diana selalu mengingatkan Timmy agar menguduskan hari Sabat.
    Timmy yang pernah menjuarai pertandingan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional di Banten dan Pekan Olahraga Pelajar Nasional di Semarang menyampaikan pesan untuk generasi muda. “Cobalah satu hal positif yang bisa dijadikan sebuah prestasi. Selain bisa menjadi prestasi, itu juga bisa menjauhkan kita dari hal-hal negatif,” ujar sulung dari tiga bersaudara ini. 

          


    Di balik prestasi Timmy, ada pengalaman tak terlupakan yang diceritakan ayah dan ibunya. Timmy pernah berkecil hati ketika berlaga di pertandingan bola basket. Ia merasa dipandang sebelah mata, sering tidak diberi bola ketika bermain bahkan hanya dijadikan pemain cadangan. Sampai akhirnya ia diikutsertakan bertanding di Kejuaraan Kota kuarter pertama. 
    Timmy membuktikan, ia patut diandalkan. Timmy mencetak 42 poin (21 x 2). Sejak itu semangat Timmy bangkit. Ia makin giat berlatih bola basket. Tak hanya rajin berlatih, Timmy menyemangati teman-teman agar tidak minder. Selain itu, ia dikenal memiliki solidaritas tinggi termasuk kepada pemain baru. Terbukti saat teman-temanya enggan melempar bola kepada teman baru yang berkebutuhan khusus, Timmy justru menyambut lewat lemparan bola seraya berseru, “Tangkap bola ini, ya!”
    Berkat kesabaran, ketekunan, dan solidaritasnya yang tinggi, Timmy dipercaya untuk memimpin tim basket. Menjadi team guard sekaligus playmaker, tak lantas membuat Timmy arogan. Ia tetap rendah hati dan mendukung tim baik di dalam maupun di luar lapangan. Senada dengan Looky, Diana mengingat momen saat Timmy berkata, “Mama, tidak usah memikirkan menang kalah. Hidup seperti bola, kadang kita di atas, kadang di bawah.” 
    Bagi Timmy, melakukan yang terbaik prioritas utama. Ia telah membuktikan tantangan dan kesulitan adalah kesempatan besar untuk bangkit lalu bersinar. Seringkali apa yang dianggap orang lain kelemahan bisa dijadikan kekuatan dan berkat untuk orang lain.
 

 

  

Catatan Panduan Gaya:Ketika melaporkan tentang Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir, mohon gunakan nama lengkap Gereja dalam rujukan pertama. Untuk informasi lebih lanjut mengenai penggunaan nama Gereja, pergi ke panduan gaya daring kami.Panduan Gaya.